Surat untukmu, Ayah

_DSC6066

Tak tahu ku harus mulai dari mana, untaian kasih sayang kata demi kata. Selembar kertas kosong putih tak berdebu, sehelai benih cinta tertuang dalam bentuk kata demi kata yang ku tulis dengan tinta hitam yang kian memudar. Setitik cahaya ku dapat didalam pikiranku yang ku olah menjadi kata-kata yang akan menjadi suatu paragraf nan indah. Sepucuk surat tersirat cinta didalamnya, semampuku berkata dengan nyanyian merdu. Kata-kata yang terucap dari mulutku adalah nafasku dan kata-kata yang tersirat dihatiku adalah jantungku. Karenamu aku da disini, Ayah.

Embun pagi dengan dinginnya menusuk tulangku, jari jemariku tak kuasa menahan getaran karena suasana. Namun itu tak menghalangiku tuk berhenti membuat sepucuk surat ini. Aku tulis dengan penuh penghayatan yang mengambarkan tentang dirimu dibawah pohon cedar yang kucoba lukiskan lewat sehelai kertas. Sebuah tanggung jawab kau pikul sebagai kepala keluarga, dimana titik kau adalah jantungnya keluarga. Detak jantung kian berdebar saat engkau jatuh bangun membanting tulang tanpa rasa letih dengan tenagamu yang mulai terkuras, dan bila detak jantungmu kian menipis seketika kau jatuh sakit karena kau sudah kehilangan seluruh tenaga. Tanganmu yang selama ini membelai tubuhku menemani ketika ku tertidur dipangkuanmu, dan tanganmulah yang mengenggamku tuk mulai belajar berjalan setapak demi setapak. Engkau adalah permata hati yang pertama kali menaungkan adzan saat ku memulai pertualangan didunia ini. Itu adalah satu hakekat utama.

Berdesis didalam hati, teringat akan beban hidup yang menjadi tanggung jawab didalam benak seorang ayah. Keras pendirianmu bukan berarti kau marah, melainkan mendidik agar anak-anaknya tumbuh mandiri, kokoh setegar karang menerjang. Namun ketika kau jatuh sakit, Kau tetap tersenyum saat dimana kau terlentang berbaring dikamarmu. Tetesan keringat yang bercucuran tak kau hiraukan dan rasa sakit yang kau alami pun kau abaikan. Melihat kau yang bekerja keras demi keluarga tanpa mengenal lelah sedikitpun. Tak satupun terdengar dari hatimu untuk berhenti, nafasmu mengalirkan kebahagiaan diantara nafas keluarga. Tak kuasa ku tersekat melepas suara dengan bibir kelu yang benar-benar tak mampu ku berkata. Untaian kata demi kata yang aku tulis tak sebanding dengan pengorbananmu yang tak terkira. Ketika sang fajar menampakan merahnya, keringat membasahi tubuhmu tak peduli akan kelelahan yang mendekapmu. Malam yang menampakan bulan, kau dibaluti rasa letih meski kau tetap diselimuti semangat tinggi untuk esok hari.

Butiran air mata yang keluar dari matamu adalah kebahagiaan yang kau beri kepada kami. Gengaman tanganmu ketika menyentuh jari jemariku adalah sebuah kasih sayang yang tak bisa terukur cintanya. Kian hari kian berkerut-merut wajahmu, fisikmu pun mulai melemah dengan bertambahnya usia. Namun kau tetap menyembunyikan rasa lelah letih yang menghampirimu, gelak tawa dan senyuman adalah selimutmu ketika kesedihan mendera. Setangkai bunga mawar berduri melukai tangan saat itulah aku menyesal menyakiti perasaanmu, ayah. Derai air mata ku teteskan melihatmu bekerja keras yang terbayang jelas dipelupuk mata, menyadarkan aku ditengah-tengah kesenangan dunia. Jika aku bertanya hal yang sama, kau akan memelukku dengan penuh kasih sayang. Kemarahanmu adalah kesadaranku memahami akan beban hidupmu, namun bukan kata-kata tajammu menusuk ke hati yang ku cari, yang ku cari adalah kekerasan menyadarkanku akan kasih sayang yang menyelimutimu ketika kau marah.

Kian waktu mengalirkan detiknya, kian pula usiamu mulai menua dan tenagamu tak sekuat dahulu meneteskan titik keringat yang membasahi tubuhmu. sekarang peluhnya berkata berhenti tuk istirahat dimana masa-masa penghujung waktu karena usia yang kian menua. Sekarang bagianku tuk membahagiakanmu karena kau ingin melihat aku sukses dikemudian hari meskipun kata maaf tak terucap dari bibirku, kau tetap menjadi penopang hidup yang kokoh. kata maaf tak cukup bagiku tuk memohon maaf dari kesalahan, kata terima kasih pun tak sebanding dengan pengorbananmu mengasuhku dan merawatku hingga saat ini. Jasamu tak pernah bisa terbalas akan hangatnya dekapanmu. Kau menjadi pedoman hidupku, pahlawan bagiku dan tak tersadar sosok yang tak tertampak dalam mataku adalah kasih sayangmu, ayah. Ich Vermisse Dich, Der Vater, i’m miss you, father and i love you.

Advertisements

About zakapramadhan

Say, "It is He who has produced you and made for you hearing and vision and hearts; little are you grateful." (67:23)

Posted on 12 July 2014, in Diary and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: