Category Archives: Rubin (Rumah Bintang)

5 Tahun 9 Organisasi

17904275_10202977616359308_4577297568680944812_n

Waktu terlalu cepat berlalu, detik ke detik, menit ke menit, dan tahun ke tahun tak terasa rasanya menjadi seorang relawan atau biar agak kecenya itu volunteer hehe. Awal cerita menjadi seorang aktifis sosial ialah melihat sosok Alm. Bapak yang selalu memberi kepada sesama tanpa melihat perbedaan derajat. Bukan itu saja alasannya, menjadi aktifis sosial ini sebenarnya adalah pelarian karena saya tidak mempunyai teman rumah. Saya beranggapan seperti itu karena teman-teman dilingkungan saya sudah terlalu melewati batas dan saya pun harus menjauh serta tidak ingin membuat keluarga saya kecewa. Hal itulah yang jadi alasan utama menjadi aktifis sosial, selain menambah teman, meluaskan relasi, mungkin ketemu jodoh barangkali wkwkwk

Awal menjadi seorang aktifis sosial dimulai saat bergabung dengan Rumah Belajar Sahabat Anak Jalanan (Rubel Sahaja) pada tanggal 23 Juni 2012. Rubel sahaja ialah organisasi yang peduli terhadap kehidupan anak-anak jalanan yang mempunyai kehidupan keras dan dekat dengan tindak kriminal. Anak jalanan paling sering dijumpai saat dipersimpangan jalan, mereka mencari sesuap nasi lewat nyanyian mereka dengan baju yang lusuh dan kotor. Hal ini yang menjadi turun derajat mereka dimata masyarakat yang mata hatinya tertutup. Diusia mereka yang rata-rata seharusnya mengecap bangku sekolah mereka hanya bisa mencari rezeki lewat bernyanyi. Kehadiran Rubel Sahaja yang membimbing dan mengajarkan mereka tentang belajar tulis, belajar baca, mengaji, berwudhu, dan lain-lain terhadap anak jalanan membuka mata saya untuk lebih percaya bahwa dunia ini memang keras dan penuh dengan perjuangan.

 

Selanjutnya ada berbagi nasi, organisasi yang mempunyai konsep unik & mudah diterapkan tetapi syarat akan makna tentang pembelajaran kehidupan. Kegiatan yang membagikan nasi bungkus kepada orang-orang yang tidur beralas bumi beratap langit. Banyak sekali cerita nyata yang membuat hati saya cukup tertampar karena dengan kesederhanaan mereka masih bisa bersyukur akan kehidupan yang mereka jalani. Awal bergabung itu tanggal 25 Maret 2013, 1 hari sebelum berkurangnya usia, ketika itu masih ada kang Abu Marlo dan kang Adjie Dygta. 16 Februari 2014, menjadi awal sebagai publikasi dan dokumentasi kegiatan untuk berbagi nasi. Ditahun 2014 saya harus memilih satu kegiatan antara Rubel dan berbagi nasi karena kegiatan ini ada hari sabtu kala itu, rubel jam 4 sore hingga maghrib dan berbagi nasi ada di jam 9 malam. Berbagi nasilah yang saya fokuskan dengan agenda memfoto kegiatan, mengedit, mengupload, dan mengirim hasil foto kegiatan kepada pejuang nasi yang lain. Sempat rehat karena seperangkat kamera dicuri orang, berat sangat berat karena kamera itu adalah jerih payah Almarhum Abah akan tetapi saya coba mengikhlaskannya karena itu juga adalah kesalahan saya juga.

Saat masih aktif di Berbagi nasi, ada salah satu relawan dari Rumah Bintang (Rubin) ikut keluyuran bersama berbagi nasi. Sambil menunggu pejuang nasi datang, saya berbincang dengan teh titi tentang rubin, dan disana sedang kekosongan kelas photography. Teh… menawarkan untuk mengajar disana dan langsung bertanya banyak tentang rubin ke mang niki (salah satu founder Rubin). 25 Juni 2014, pertama kali datang ke Rubin dan langsung berbincang banyak dengan mang niki tentang kelas photography. Sempat beberapa kali masuk mengisi kelas photography, dan ini ada hubungannya dengan berbagi nasi yaitu kehilangan seperangkat kamera yang membuat kelas photography pun harus dihentikan sementara. Diwaktu rehat inilah ketika tidak ada kamera waktu kampus pun semakin padat dan membuat saya harus fokus ke mata kuliah. Ketika kamera sudah ada gantinya, kelas photography pun tetap tidak bisa jalan karena faktor kuliah tetapi beberapa kali membantu dokumentasi saat anak-anak rubin performance mengisi disuatu acara. Selain itu, kegiatan yang saya suka ialah saat bulan Ramadhan yaitu anak-anak mengumpulkan 1000 sehari dan diakhir bulan puasa mereka akan memasak bersama-sama dan membagikannya kepada orang-orang yang tidak mampu yang berada di jalanan serta mereka sudah mampu untuk mandiri. Luar biasa guys……

Beruang matahari, komunitas yang memfokuskan sosial terhadap anak-anak yatim piatu atau anak-anak panti asuh. Tak bisa berbicara banyak tentang kegiatan ini karena saya tidak mengikuti dari mulai acara gathering, hanya H-1 datang ke persiapan acara “Bearnival”. Saat hari H saya menjadi LO atau mentor anak-anak panti di Dome Enhai. Konsepnya seperti acara sirkus ada bianglala dan lain sebagainya. Selama mengikuti acara bearnival ini, konsep yang diusung sangat menarik dan mengasikan terutama bagi anak-anak panti. Panti yang saya mentori yaitu Panti penghafal quran yang ternyata adalah panti teman saya di Madrasah yaitu Enang lukman. Di tahun ini saya mengikutinya acara beruang matahari lagi mulai dari gathering hingga acara dengan tema “Out of the box”. Ingin tahu ceritanya, search di wordpress ini hehhe….follow atuh 😀

Selanjutnya ditahun 2016 ada Sekolah Alam DagoBandung. Lagi-lagi link didapat dari pertemuan relawan di Berbagi Nasi. Saya di ajak oleh salah satu pengajar disana untuk mengisi 1 materi dan menjadi  guru tamu disana. Awalnya bukan 1 hari saja tetapi 7x pertemuan, akan tetapi saya tidak bisa memastikan kalau 7x pertemuan.  Dihari saat mengisi materi, saya membawa materi tentang recycled materials atau mendaur ulang sampah menjadi hal yang dapat dipakai kembali. Materi itu dipakai karena sesuai dengan konsep sekolah mereka yang bertemakan tentang alam. Dihari pertama hanya tentang materi dan di minggu ke dua prakteknya, akan tetapi minggu kedua ternyata bentrok dan sangat disayangkan prakteknya di batalkan. Tetapi di tahun 2017 ini saya kembali dapat kabar lewat komen Instagram, salah satu akun sekolah alam mengisi komen agar saya main lagi ke sana untuk mengisi materi, mudah-mudahan bisa terlaksana dan mengajak beberapa yang mau dari kelas inspirasi bandung dan 1000 guru bandung.

 

Indonesia Mengajar menjadi salah satu langkah besar saya untuk membantu Pendidikan di pelosok Indonesia. Mengikuti perkembangan kabar hingga 3 bulan dan akhirnya keberuntungan bukan ada disaya untuk menjadi pengajar muda Indonesia Mengajar XIII ini. Akan tetapi Proses yang cukup panjang hingga tahap Direct Assessment ini cukup disyukuri mengingat ada 9832 peserta yang mendaftar. Di tahap Direct Assessment ini, tahap dimana simulasi pengajaran dan wawancara menjadi titik penentu lolos atau tidaknya ketahap selanjutnya menjadi seorang pengajar muda. Tahap ini sungguh mengasikan dengan acting berkarakter anak-anak saat simulasi belajar. Intinya, meski tidak lolos sampai tahap Direct Assessment ini saya sangat bersyukur dan bertemu teman-teman baru yang sangat luar biasa.

 

 

Ini menjadi titik dimana mimpi bisa menjadi kenyataan, membuat sebuah rumah belajar dilingkungan rumah. Meski bukan menjadi founder melainkan co-founder rumah belajar barka. Awalnya, lingkungan rumah ini belajar disuatu wilayah diluar lingkungan sukajadi, salah satu pengerak berkata “kenapa dilingkungan sukajadi ini tidak ada salah satu pengajar dari muda-mudi anak asli sukajadi?”. Tercetuslah disana, mengajak beberapa anak-anak muda termasuk saya hihhii untuk mendirikan sebuah rumah belajar. Lalu saya bertukar pikiran dan meminta saran pendapat kepada mang niki bagaimana mendirikan sebuah rumah belajar. Problem internal dari pengajar adalah yang harus dipahami, banyak kendala yang harus dipecahkan dengan berjalannya rumah belajar barka itu sendiri sebagai contoh pendanaan dan kepercayaan  warga sekitar. Dari sisi pendanaan, mau tidak mau pendanaan ini hanya bisa didapat dari masing-masing pengajar dan kepercayaan warga untuk menitipkan anak-anaknya untuk mendapatkan ilmu lebih dari si pengajar.

Kelas Inspirasi Bandung, menjadi organisasi yang ke 8 yang saya ikuti. Prosesnya sama seperti Indonesia Mengajar yakni menyaring relawan lewat formulir online di websitenya.  Perbedaanya adalah waktu yang tidak terlalu lama untuk menyaring relawan. Kelompok 42 di SDN Cigondewah inilah, saya mempresentasikan profesi saya sebagai desain interior. Awalnya merasa gugup berada di depan anak-anak karena bukan tipe yang cepat untuk beradaptasi. Rasa nyaman untuk menyampaikan materi baru dirasa setelah masuk kelas yang ke 3 dari 4 kelas yang saya masuki. Ini sungguh pelangalaman luar biasa menggantikan ½ hari penuh profesi guru, namun  disini bukan sebagai guru tetapi sebagai inspirator. Rekan inspirator pun sangat luar biasa mempersiapkan diri dengan membawa peralatan sesuai profesi masing-masing.

Organisasi yang baru-baru ini telah selesai kegiatannya ialah 1000 Guru Bandung dengan tema special Hardiknas. Serentak 1000 Guru yang tersebar di Indonesia membuat kegiatan ini. Awalnya saya tidak tahu ada kegiatan ini ahahha jarang pantau Instagram 1000 Guru Bandung. Kegiatan ini berbarengan dengan persiapan acara Beruang Matahari yang membuat saya keteteran membagi waktu, tetapi saya prioritaskan dulu untuk kegiatan 1000 Guru Bandung. Perjalanan menuju tempat lokasi dinilai cukup beresiko karena treking bebatuan, lumpur, dan jurang menjadi tantangan. Ketika hari hardiknas, acara pun sangat meriah banyak ilmu yang didapat, penampilan dari seni SDN Pangeureunan 5, Door Prize untuk warga sekitar, dan lain-lain. Sayang, Untuk acara traveling harus dibatalkan karena ada kendala kecil tetapi untuk keseluruhan acara sungguh luar biasa kebersamaannya.

Sungguh, 5 tahun yang berharga namun perlu diketahui bahwa menjadi relawan itu tidak semudah yang dibayangkan. Tidak ada niatan dari awal untuk terjun menjadi aktifis sosial, karena ini sungguh sebuah kecelakaan yang positif. Mengapa? Hal yang mendasar ialah saya tidak mempunyai seorang teman rumah. Saya beranggapan seperti itu karena teman-teman dilingkungan saya yang dulu adalah teman sepermainan kini sudah sangat berubah dan masuk ke ranah geng m*t*r. Saya sudah beranggapan harus menjauh dan mencari teman baru.

Lewat berbagai oraganisasilah tujuan saya mencari banyaknya teman-teman yang luar biasa positif yang bisa membangun hal yang baru. Seluruh organisasi yang saya ikuti selama 5 tahun ini, banyak hal positif yang saya petik selain indahnya berbagi terhadap sesama. Pelajaran hidup itu tidak dapat diungkap dengan kata-kata karena banyak hikmah yang saya ambil dari berbagai organisasi ini. terima kasih untuk semua, kalian orang-orang yang luar biasa

Advertisements

BerbaginasiID sinergi dengan Rumah Bintang (Rubin_BDG)

07222014 Bandung
Sinergi bersama Rumah belajar @Rubin_bdg, dengan mengerahkan pasukan cilik para penerus bangsa.

Mereka (anak-anak rubin) belajar untuk berbagi dan peduli terhadap sesama, sejak awal puasa mereka menabung & menyisihkan Rp. 1000 sehari untuk bergotong royong membuat nasi bungkus bersama. Dari mulai proses mengiris, memasak & menanak nasi mereka ikut ambil peran dan bagian, sampai membungkus nasi pun mereka kerjakan. Dari sana terkumpul lah 250 bungkus nasi + 4 dus air mineral Dari uang hasil tabungan mereka dr awal puasa, & mereka pula lah yg turun kejalanan membagikan distribusinya.

Memupuk “rasa” semenjak dini, mudah2an ketika mereka jd pemimpin kelak mereka ingat akan kondisi saudara & bangsa ini, sehingga mjd pemimpin yg selalu peka, Peduli & penuh akan rasa syukur. Amien!

kelas photography di Rumah Bintang (Rubin)

page

 

Pertama kali datang ke rumah bintang tanggal 25 juni 2014. teh titi (Nastiti), mengajak saya untuk menjadi mentor anak-anak di kelas fotograpi yang di tinggal oleh teh rini (mentor fotograpi dulu). Saat itu, saya pun langsung tertarik dengan kegiatan yang ada di rumah bintang. Tanggal 25 juni 2014, saya datang dengan salah seorang teman di berbagi nasi (Prihesty) bertemu dengan pengagas rumah bintang yaitu kang Niki. Saat memasuki rumah bintang, interiornya pun sungguh kreatif dengan gambar-gambar warna warni disana sini.

Bertemulah saya, dengan kang Niki. Beliau menjelaskan secara detail tentang Rumah Bintang dengan santai.

“Rumah bintang didirikan agar mimpi-mimpi mereka bisa tercapai dan menjauhi hal-hal yang bersifat negatif” ujar Kang Niki.

Beliau pun menceritakan anak yang senang sekali dengan kelas fotograpi, nama anaknya itu adalah jessica. Saat saya bertemu anak itu, excited beud. Rasa senang, gembira terpancar dari wajahnya. Kalau saya liatnya malah olohok wkwkkwkwk tapi saya pun ikut senang.

Pada tanggal 08 juli 2014, saya datang ke rubin sambil ngabuburit dengan tujuan ngobrol santai sama anak-anak, ya pedekate lah ya dengan anak anak hahhaha. Lalu saya menanyakan “sampai mana perkembangan materi yang di ajarkan oleh teh rini kemarin?”.  Materi exposure, aperature, ISO, panning, freezing, zooming pada sudah, tapi saat di tanya kembali blank hahha  tapi tak apa-apa yang penting adalah niat mereka ingin mendalami dunia fotograpi.

Sebagai pemanasan, foto diatas adalah foto hasil anak-anak. Kita mulai dari teknik “bokeh”. Eits, pake lensa manual 50mm F1.8 (1979-1985) hahaha, lensa yang bisa fokus dengan manual atau oleh penggunanya. Mengapa? saya ingin melatih kemampuan pengelihatan mereka terlebih dahulu dengan tujuan agar pengelihatan mereka bisa tajam saat keadaan low light/minim cahaya yang terkadang saat mode autofokus, titik fokus tidak terdeteksi dan moment untuk mengabadikan gambar akhirnya lewat begitu saja. maka dari itu anak-anak di latih dengan lensa manual.

Dari hasil foto-foto mereka sudah cukup baik, tinggal dilatih kembali ketajaman saat membidik objek / bidang yang akan di ambil serta mengingat kembali pelajaran / materi yang sudah di berikan oleh teh rini, serta tak lupa juga berterimakasih kepada teh Rini yang telah mengajarkan anak-anak belajar fotograpi. Dengan bacaan Basmallah “bismillahirrahmanirrahim”, dengan izin Allah SWT saya ingin membagikan ilmu-ilmu saya yang bermanfaat untuk anak-anak dan orang lain dengan lancar. Amin  Ya Allah….